Canggung..

|
Boo tadi menelpon, dan memang hanya sebentar. Tapi detik-detik itu masih terngiang di kepalaku. Dia menelpon, terima kasih. Haduhh...gmana tadi intro yang kuharapkan ingin ku tulis kesini. Sepertinya tadi naskah yang ku buat sudah bagus sekali. Ini lah resikonya klo tidak langsung dituangkan ke sini. Ok ceritanya diulangi.

Malam ini, si ungu berdering dan memperlihatkan tulisan "withheld" mungkin maksudnya disembunyikan ya, ah itu lah pokoknya nomernya disembunyikan, dengan perasaan biasa saja aku menjawab telepon itu. "Ya assalamu alaikum". Dari kejauhan ku mendengar suara pria asing, tadinya ku berpikir ini mungkin salah satu mahasiswa ku yang ingin minta ijin nda masuk kuliah besok, tapi...sedikit-sedikit dia berbicara dan aku langsung mengenali aksen itu. Dia boo. Suara itu suaranya, walaupun ada perbedaan sedikit tapi itu suaranya. Sebelum dia memanggilku, aku telah mengenal dirinya. Boo, sepertinya tadi hanya suaramu yang ada di telingaku. Suara hujan, musik, televisi seakan-akan teredam, dan hanya suaramu dari tempat yang jauh itu yang ku dengar. Hanya dua menit tujuh belas detik pembicaraan tadi, tidak cukup bagiku, tapi itu saja sudah Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah, makasih boo. Makasih juga buat yg punya telp, yg bayarin pulsanya, yang masang telp di kapal itu, makasih makasih.

Ibarat seseorang yang berpuasa, pada saat menjelang buka puasa dia telah memikirkan makanan dan minuman yang akan ia santap, tapi setelah dibolehkan makan dan minum, ia hanya meminum segelas air putih. Dan ia rasa, itu saja telah cukup melepas dahaganya. Seperti itu juga perasaan ku boo, banyak sekali yang ingin ku katakan tadi. Tapi tak tahu kenapa, semua tersendat di ujung lidah ku. Mendengar suaramu saja yg memanggilku, itu sudah cukup. Malah, kebahagiaan yang ditimbulkannya sangat besar. Maaf boo, mungkin tadi aku berusaha mengulu-ngulur waktu. Tapi tidak ada pembicaraan penting yang aku katakan.

Baik-baik di sana ya.

0 komentar:

Posting Komentar

Beri kata-kata