Write to my self

|

Aku rapuh.
Sepertinya ini sifat tidak termaafkan yang aku punya. Terlihat tegar tetapi sebenarnya aku sangat rapuh. Aku tidak tahan dengan suara bentakan, nada tinggi dan amarah. Dan mengherankan, aku bisa tertawa lebar setelah menangisi kerapuhanku.

Aku punya dia.
Kau membuatku rapuh. Dengan semua keterbatasanku kau menggugat. Keteledoranku kau menghujam. Membuat titik-titik mengalir di pipiku. Dan mengherankan, kau juga yang menghentikan alirannya. Malah, kau membuat bibirku membentuk senyuman. Meredakan emosi yang hanya meledak-ledak dalam hati sedangkan aku membisu.

Kau menangis.
Di saat ku menangis. Kau malu mengakuinya, tapi tidak kepadaku. Karena kerapuhan ini, kau harus mendengar tangisku padahal aku telah berjanji pada diri sendiri tidak akan memperlihatkan bulir-bulir ini lagi. Seharusnya aku menjadi kuat di depanmu. Tapi apa dayaku, hati ini terlalu rapuh. Dan kau pun menangis, disaat aku sudah tidak sanggup menyembunyikan isak ini. Berbeda denganku yang hanya terdiam, kau masih sempat membuatku menyukaimu.

Dan hati ini tetap ingin bersamamu. Walaupun rapuh hati tetap tak terhindarkan. Walaupun bulir-bulir di pipi belum mampu kau hentikan selamanya. Tapi, selalu ada senyuman untuk ku, untuk menenangkan hati ini. Biarkan cerita ini berlanjut hingga kita menemukan titik perpisahan.

0 komentar:

Posting Komentar

Beri kata-kata